Dulu, saya selalu bilang bahwa saya gak akan bisa tinggal di kota lain di dunia ini yg lebih kecil dari Jakarta. Pekerjaan saya di kantor yang dulu, mewajibkan saya untuk keliling ke berbagai kota di Indonesia, mulai dari Tegal sampai Manado, dari Pekanbaru sampai Lombok, dan saya selalu homesick. Tiga-empat hari tinggal di kota2 itu sudah bikin saya gak betah, pengen pulang ke semrawut dan hiruk pikuknya Jakarta, yg selalu (dan semakin) macet. Kecintaan saya yang begitu besar pada Jakarta juga yang jadi satu alasan saya gak mau kuliah S1 di kota lain. Walaupun teman2 SMA saya dulu berlomba2 daftar PTN di kota B (selain alasan akademis juga alasan pengen bebas dari ortu kata mereka, hehe… ), saya tetap maunya di Jakarta aja!
Time goes by… And then…saya diterima di program master di kota ini, Groningen, Negeri Belanda. Dan Alhamdulillah, beasiswa Stuned juga didapat… Baru kemudian saya cari di peta Belanda, di mana gerangan letak Groningen? Hmm…jauh ya dari kumpulan kota-kota “besar” yang sudah saya sering dengar namanya sebelumnya (dulu kan taunya cuma Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, dan Utrecht). Terus, baru tanya2 ke teman2 yang sudah pernah kuliah di Groningen. Semua bilang, kotanya kecil, tapi cantik kok. Aduh, kota kecil ya? Gimana dong… (yang anehnya sebelum daftar ke Univ-nya saya gak pernah selidiki dulu kota Groningen itu seperti apa, di mana… hehehe). Ada mall gak ya? (ga ada, kata mereka. For most people, maybe it’s not a big deal, but for me? Maybe it’s equal with imagining your food without rice ;p). Trus katanya, semua orang naik sepeda. Yang terbayang langsung pedesaan lengkap dengan sapi-sapi berkeliaran, ke kampus bersepeda menyusuri jalan setapak kecil, beli susu dan keju langsung dari petani, dan jarak rumah ke rumah yang lain berjauhan. Huhh…how can I live my life there??
27 Agustus 2007, sampailah saya di kota Groningen stlh menempuh perjalanan 18 jam by plane dan 2.5 jam by train dari Schiphol. Kesan pertama, OK, it’s not as bad as I thought, it’s not as ‘village’ as I imagined… I even liked the train station
. Hari pertama itu, setelah taro barang di student house, kita diajak jalan2 ke centrum (city centre) oleh tim penjemput, yang notabene mostly adalah anak2 Stuned 2006. Kesan berikutnya, hey kota ini boleh juga ya… I liked the canal, I liked the idea that everyone’s riding their bike… Kemudian, wah…bukan desa dengan peternakan sapi kok, banyak toko2 di centrumnya!
Penduduknya juga ramai, banyak anak-anak muda (Groningen memang salah satu kota pelajar di Belanda, komunitas international studentnya cukup banyak. Lagi2 baru tau belakangan, hehe..). Dan, makin banyak “ternyata ternyata” lainnya, yang syukurnya adalah “ternyata” yang positif buat saya.
Singkat cerita, hari-hari awal saya lalui dengan baik di kota kecil Groningen ini. Yang semakin lama, semakin saya cintai. Kekhawatiran saya tidak bisa tinggal di kota kecil tidak terbukti. Saya menikmati setiap hari2 saya di sini. Hari-hari kuliah, hari-hari jalan2, hari-hari menyerbu ‘sale’ di centrum, hari-hari makan bersama dengan teman2 setanah air. Saya suka bersepeda di sisi kanal kecil dekat student house saya, saya suka dengan bebas polusinya, bebas macetnya, keramaian centrumnya yang “cukuplah”
. Saya suka melihat warna daun-daun pohon di musim gugur, saya sangat excited menyambut salju pertama di musim dingin, saya suka melihat bunga2 putih kecil bermekaran di Noorderplantsoen di awal musim semi. Dan saya gembira dengan cerahnya matahari di bulan Juni. Saya bukan hanya bisa hidup di kota yang (jauh) lebih kecil dari Jakarta, tapi saya menikmati kehidupan saya di sini. Saya jatuh cinta dengan kota kecil ini.
Oke, intinya, saya cuma mau bilang, don’t be afraid of something that you’ve never been through before. Don’t let your worries become the burden of your opportunity, of experiencing something different in your life… Life is a process, life is a journey, enjoy your ride!
)
cheers,
sissi,
groningen 5 jun 2008
Setuju!!! Ga salah deh kita milih Groningen
Tapi gue tetep kangen sama Jakarta…
Biar gitu, nanti juga pas udah pulang rasanya bakal kangen balik ke Groningen. Gimana ya, namanya juga manusia, ‘you don’t know what you’ve got until you say goodbye’ (Savage Garden, 1999)
Kangen Jakarta sih iya lah Win… tapi masih dalam batas2 yg sangat bisa ditolerir
Btw, itu lagu Savage Garden yg judulnya apa sih? bukannya lagunya big yellow taxi yang “you don’t know what you’ve got till it’s gone” hehehe…
Itu kutipan dari Affirmation, yang salah satu line-nya ‘I believe the grass is no more greener on the other side’. Maksudnya, kalo soal keindahan, Indonesia paling top deh dibandingkan negara2 Eropa :p Lama-lama ga nyambung ya, ntar gue di-kick ama admin
Oiya gw tau lagu itu, nyokap gw suka dengerin soalnya… Hmm kalo komen harus nyambung ya win, nanti kita dimarahin sama admin mas/mba Stunedfun
Cerita yang menarik…..
Very well written…
Kak, gimana yah caranya dapet beasiswa di belanda? pengen juga jadinya :p
mohon bantuannya..